Rindu

Kali pertama, aku ingin berbicara tentang merindu.

Rutinitas yang kulakukan di jam-jam kosong kegiatan. Setelah capek seharian, bukannya istirahat, yang kulakukan di atas kasur sambil terpejam malah memikirkan dia dan kenangan bersamanya. Sering terbesit kilas balik hari dimana aku melihatnya.

Pagi itu, masih kuingat bahwa langit sedang cerah-cerahnya. Berdasarkan hasil investigasti teman-temanku yang memastikan bahwa dia sedang berada di sekolah, aku mencarinya. Benar saja, dengan tas selempang yang biasa dia gunakan bersama rambut super gondrong-nya itu dia muncul di hadapanku.

Kalian pasti berpikir bahwa saat itu aku akan sekadar menyapa, bukan? Hmm, tentu saja tidak. Aku ini pecundang kalau sudah berhadapan dengan dia. Bahkan untuk berdiri tegap aja susah, lututku langsung lemas seketika.

Itu yang selalu terjadi denganku saat bertemu dengannya setelah sekian lama menahan rindu yang merdu. Makanya, aku ini cuma remah-remah biskuit yang bisanya hanya menunggu dan merindu.

"Menunggu. Lelah ku tetap menunggu. Biar hujan asa membasahi setiap titik letih di tubuhku"

Di sela-sela kegiatan merindu, aku juga sempat menulis puisi yang beberapa kali sempat aku pasang di mading/socmed dengan harapan dia membacanya. Kali ini, aku tulis ulang di sini bersama harapan yang sama.

Merindu

Waktu habis ku duduk termanggu
Menatap kau dengan sejuta pesona diri
Kini, aku membeku tertaut rindu yang merdu
Oh, andai aku sedikit lebih berani

Bila ku senandungkan lagu ini
Ku harap kau rasakan getarannya
Saat kau dengar lantunan melodi ini
Semoga kau mengerti apa maksudnya

Aku mencintaimu dalam diamku
Kau yang berlalu dengan tangan dalam saku
Detik yang kutinggalkan berlalu begitu saja
Sampai saat ini penantian itu masih ada

-Hari ke 8 puasa, masih dalam kegiatan merindu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Jalan, Kakek

HOW TO FINANCIAL CHECK UP