Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Ramadhan, Lebaran dan Harapan yang Memudar

Hari ini 20 juni 2017 26 hari telah berlalu di bulan yang suci ini. Harusnya empat hari lagi kusambut dengan bahagia, namun hari ini semangat itu putus seketika. Ada sebuah harapan yang muncul di benakku. Ada sebuah harapan akan pertemuan dengan saudara, keluarga besar dan aroma kampung halamanku. Bersalahkah aku akan enggan menyambut hari itu? Kecewaku kali ini besar sekali. Pasalnya, dua minggu yang  lalu aku sangat bersemangat menanti-nanti hari itu. Rasa ingin cepat buru-buru packing barang bawaan, masak untuk bekal perjalanan, menempuh 600 kilometer bogor-purworejo dan mengunjungi rumah-rumah sanak saudara di sana. Dan hari ini? Semangat itu pudar, mencair, redup dan tak bersisa. Dengan alasan yang enggan kuceritakan di sini, aku terpaksa merayakan hari lebaran di Bogor (kau harus tahu, bahwa menulis kalimat barusan saja aku sudah lemas). Hari yang harusnya sangat kunanti-nanti malah ingin segera kulewati. Aku kecewa , marah dan sedih kali ini. Perasaan yang tela...

Selamat Jalan, Kakek

Masih tentang beliau kali ini. 24 jamnya selalu begitu. Rutin. 24 Maret 1997 , beliau tidur lebih cepat. Setelah seharian membuat kue ulang tahun untuk cucu kesayangannya. Besok adalah hari yang sangat dinanti-nanti olehnya. TENG! Jam besar di ruang tamu menunjukkan waktu pukul 04.00 Waktu Indonesia bagian Barat. Beliau menolak permintaan anaknya untuk membuat kejutan tengah malam, takut cucunya mengantuk dan terlambat masuk sekolah. Aku terbangun tiba-tiba saat itu. Dengan mengintip di celah pintu kamar, aku langsung mengetahui bahwa Ayah, Ibu dan Kakak tengah sibuk meniup balon. Aku langsung tersenyum. Tapi, mana kakek? Setelah 15 menit berlalu, ayah sepertinya memutuskan untuk memanggil beliau ke kamarnya. Tiba-tiba Ayah berteriak memanggil Ibu. Sontak aku langsung bergegas keluar dari kamar. Napasnya sudah berhenti. Wajah tua itu tersenyum tenang dan damai di ujung waktunya. Benar saja apa yang dikatakannya waktu itu. Beliau pergi sebelum bisa menghirup  aroma pagi itu...

Perjalanan 24 Jam

Ini kisah tentang perjalanan seorang manusia. Perjalanan panjang yang melibatkan banyak peristiwa, banyak rasa dan banyak orang yang terlibat di dalamnya. Dan semua yang terjadi juga atas campur tangan Yang Maha Kuasa. Tujuannya cuma satu, untuk kembali ke pangkuan-Nya. Sebagai seorang jompo berkepala enam , kakek ini orangnya optimis sekali. Walaupun giginya sudah banyak yang tanggal , tapi senyumnya tidak pernah memudar. Dua puluh empat jam- nya dibuka dengan secangkir teh hangat tanpa gula, tentunya. Pagi pagi buta, beliau sudah siap dengan sepatu olahraga pemberian cucunya dipadukan dengan kaus baseball kesukaannya. Waktunya menyehatkan badan dan pikiran. "Udara pagi adalah gerbang pembuka hariku. Jika aku masih bisa menghirup aromanya , berarti satu hari itu masih menjadi milikku ." , begitu katanya. Jam berikutnya, beliau sudah duduk di atas motor. Udara dingin masih menyelimuti bumi, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket-kali ini pemberian anak semata wayang...

Aku & Si Mimpi

Hari ini, aku bertemu dengan seorang teman lama. Awalnya aku tidak tahu siapa dirinya dan dia seperti menangkap kebodohanku lalu berkata "Ini aku, Mimpi." "Oh, M impi." Dengan tampang bodoh sambil cengengesan, aku mengingatnya. Dia ini sahabat karibku dulu. Dulu, dia ini kawan terbaikku. Menemani dalam setiap momen bahagia dan sedihku, setia bukan? Sekarang aku tahu kenapa bisa sampai lupa dengan Si Mimpi ini. Aku terlalu larut dalam segudang kegiatan yang harusnya jadi milik orang lain. Aku berjalan seperti air yang mengalir, tidak peduli mau dibawa kemana biar arus yang menentukan. Aku mencoba menikmati apa saja dalam hidup sebelum diambil. Sampai-sampai aku lupa, bahwa aku punya Mimpi. Bahwa aku perlu melakukan kegiatan yang aku sukai tanpa peduli cakap orang lain. Bahwa aku perlu menentukan mau lurus atau belok, mau ke kanan atau ke kiri. Bahwa aku perlu melepas topeng, perlu bahagia dengan sebenar-benarnya, perlu menikmati sesuatu yang menurutku memang ni...

365 Hari Denganmu

Masih dalam suasana belajar yang khidmat aku menulis ini. Sebuah kisah yang waktu itu kutemukan di dalam lorong waktu. Seperti monolog singkat, dia menceritakannya padaku. Katanya, judulnya 365 Hari Denganmu . Kala itu kau buka hari dengan secangkir kopi, menemani segelas cokelat hangat yang ku genggam. Senyumanmu adalah sarapanku, tawa canda yang kau buat adalah energi yang buatku merasa siap jalani hidup. Seribu tahun yang lalu, hidupku penuh tentangmu. Tentang rasa nyaman yang kau beri lewat bahu itu. Berbagi kisah di bawah pohon rindang, demi menghindari panas matahari siang itu. Saat senja datang, hujanpun turun. Membawa kami menari bersamanya. Tak pernah kubayangkan bila desember itu akan terasa sangat manis. Oh, sungguh akhir tahun yang membahagiakan. Bumi berputar, waktu berjalan dan suara takdirpun menggema. Sungguh tidak adil! Semesta menelan kebahagiaanku . Ia renggut raga, jiwa bahkan nyawamu . Secepat itu. Kuulangi , secepat itu. Januari lalu, aku baru mengena...

Rindu

Kali pertama, aku ingin berbicara tentang merindu . Rutinitas yang kulakukan di jam-jam kosong kegiatan. Setelah capek seharian, bukannya istirahat, yang kulakukan di atas kasur sambil terpejam malah memikirkan dia dan kenangan bersamanya. Sering terbesit kilas balik hari dimana aku melihatnya . Pagi itu, masih kuingat bahwa langit sedang cerah-cerahnya. Berdasarkan hasil investigasti teman-temanku yang memastikan bahwa dia sedang berada di sekolah, aku mencarinya. Benar saja, dengan tas selempang yang biasa dia gunakan bersama rambut super gondr ong -nya itu dia muncul di hadapanku. Kalian pasti berpikir bahwa saat itu aku akan sekadar menyapa, bukan? Hmm, tentu saja tidak. Aku ini pecundang kalau sudah berhadapan dengan dia. Bahkan untuk berdiri tegap aja susah, lututku langsung lemas seketika. Itu yang selalu terjadi denganku saat bertemu dengannya setelah sekian lama menahan rindu yang merdu . Makanya, aku ini cuma remah-remah biskuit yang bisanya hanya menunggu dan merind...

Kalimat Pembuka

Pertama, biarkan kamu mengenalku . Perempuan kelahiran tahun 2000 ini tinggal di kota yang tiap hari hujan . Setelah ribuan kali baca tulisan sendiri, rasanya perlu untuk berbagi dan pengen ada orang lain yang baca coretanku. Kalau aneh, maklumi aja namanya juga coreta n -fan, 17 tahun. Tinggalkan jejak kalau sempat, aku ini suka ngobrol dan memang sedang butuh teman ngobrol