365 Hari Denganmu
Masih dalam suasana belajar yang khidmat aku menulis ini. Sebuah kisah yang waktu itu kutemukan di dalam lorong waktu. Seperti monolog singkat, dia menceritakannya padaku. Katanya, judulnya 365 Hari Denganmu.
Kala itu kau buka hari dengan secangkir kopi, menemani segelas cokelat hangat yang ku genggam. Senyumanmu adalah sarapanku, tawa canda yang kau buat adalah energi yang buatku merasa siap jalani hidup.
Seribu tahun yang lalu, hidupku penuh tentangmu. Tentang rasa nyaman yang kau beri lewat bahu itu. Berbagi kisah di bawah pohon rindang, demi menghindari panas matahari siang itu.
Saat senja datang, hujanpun turun. Membawa kami menari bersamanya. Tak pernah kubayangkan bila desember itu akan terasa sangat manis.
Oh, sungguh akhir tahun yang membahagiakan.
Bumi berputar, waktu berjalan dan suara takdirpun menggema. Sungguh tidak adil! Semesta menelan kebahagiaanku. Ia renggut raga, jiwa bahkan nyawamu. Secepat itu.
Kuulangi, secepat itu. Januari lalu, aku baru mengenalmu. Ajaibnya kita langsung selalu bersama, jatuh ke dalam lubang yang disebut cinta. Januari ini, aku baru... tanpamu.
Mereka membawamu ke pelukan Sang Pencipta, meninggalkan seorang wanita yang lima detik lalu kau selamatkan dari mobil yang melaju kencang. Itu aku.
Sekarang malah aku yang merasa tak bernyawa. Melihat darah mengalir deras dari tubuh orang yang kucintai. Ya, aku mencintaimu.
Bahkan kalimat itu belum sempat kau dengar. Aku terlalu larut dalam kebahagiaanku hingga lupa bahwa rasa cinta perlu diungkapkan.
Egoisnya aku. Ikatan cinta yang pernah kau tawarkan hanya kubalas dengan senyuman. Hanya karena aku terlalu takut kita akan berpisah di tengah jalan seperti apa yang biasanya terjadi.
Entah seperti apa 365 hariku berikutnya. Namun, biarkan aku berteriak sekencang-kencangnya, AKU MENCINTAIMU! Ku yakin kau akan mendengarnya dari atas sana.
Komentar
Posting Komentar