Postingan

CRISIS SURVIVAL GUIDE

Oke, kali ini, abis dengerin webinar dari Inspigo tentang Skill Up #2 dan gue mau berbagi lagi untuk kalian. Membahas panduan bertahan hidup di tengah krisis pandemi ini, gue punya 3 cara untuk mengakalinya. #1 Cut Spending Untuk meminimalisir pengeluaran, lo bisa membagi pengeluaran menjadi 4 bagian, yaitu postpone, eliminate, reduce, dan keep . Yang pertama, kita tentukan mana pengeluaran yang harus kita pertahankan karena mau gak mau harus keluar kayak makan, bayar kostan, ongkos transportasi dan lain-lain lalu kita masukkan ke bagian keep .  Next , kita coba cari pengeluaran yang mungkin bisa dikurangi kayak nongki-nongki cantik, belanja di e-commerce,  dan delivery makanan lalu masukin daftar tersebut ke bagian reduce . Coba deh sekali-kali lo masak sendiri, siapa tau bisa jadi bahan latihan buat menggoda mertua di masa depan *ups hehehe. Yang ketiga, kita akan bahas eliminate atau dihapus. Kalo kita liat lagi, mungkin banyak membership yang kita harus bayar padahal nggak...

HOW TO FINANCIAL CHECK UP

Gue baru aja abis dengerin webinar dari Inspigo tentang Skill Up #1 dan gue mau berbagi sedikit tentang How to Financial Check Up.Yapp, sambil ditemani penampilan dari Ardhito Pramono gue menulis ini, hehehe... Ok, first thing first, you should know what is Financial Check Up? Financial check up adalah mengecek keadaan keuangan saat ini. Ini penting banget, sebagai anak muda yang hobinya belanja di e-commerce kesayangan, kita nggak boleh lupa bahwa kesehatan dompet perlu diperhatikan juga hihihi. #1 Income > Expense Kalau lo anak ekonomi, pasti nggak akan asing sama dua kata ini, income dan expense . Income atau pendapatan yang lo punya harus dibandingin dengan beban pengeluaran lo setiap harinya, pastikan . Ini mudah banget, lo tinggal hitung total pendapatan perbulan, mulai dari gaji utama, uang jajan dari orang tua dan penghasilan dari side job. Setelah itu, lo bisa hitung expense atau beban pengeluaran lo setiap bulannya, mulai dari uang makan, uang transportasi, kuota interne...

Tidak ada judul

Lama tidak singgah. Ingin bercerita.

Ramadhan, Lebaran dan Harapan yang Memudar

Hari ini 20 juni 2017 26 hari telah berlalu di bulan yang suci ini. Harusnya empat hari lagi kusambut dengan bahagia, namun hari ini semangat itu putus seketika. Ada sebuah harapan yang muncul di benakku. Ada sebuah harapan akan pertemuan dengan saudara, keluarga besar dan aroma kampung halamanku. Bersalahkah aku akan enggan menyambut hari itu? Kecewaku kali ini besar sekali. Pasalnya, dua minggu yang  lalu aku sangat bersemangat menanti-nanti hari itu. Rasa ingin cepat buru-buru packing barang bawaan, masak untuk bekal perjalanan, menempuh 600 kilometer bogor-purworejo dan mengunjungi rumah-rumah sanak saudara di sana. Dan hari ini? Semangat itu pudar, mencair, redup dan tak bersisa. Dengan alasan yang enggan kuceritakan di sini, aku terpaksa merayakan hari lebaran di Bogor (kau harus tahu, bahwa menulis kalimat barusan saja aku sudah lemas). Hari yang harusnya sangat kunanti-nanti malah ingin segera kulewati. Aku kecewa , marah dan sedih kali ini. Perasaan yang tela...

Selamat Jalan, Kakek

Masih tentang beliau kali ini. 24 jamnya selalu begitu. Rutin. 24 Maret 1997 , beliau tidur lebih cepat. Setelah seharian membuat kue ulang tahun untuk cucu kesayangannya. Besok adalah hari yang sangat dinanti-nanti olehnya. TENG! Jam besar di ruang tamu menunjukkan waktu pukul 04.00 Waktu Indonesia bagian Barat. Beliau menolak permintaan anaknya untuk membuat kejutan tengah malam, takut cucunya mengantuk dan terlambat masuk sekolah. Aku terbangun tiba-tiba saat itu. Dengan mengintip di celah pintu kamar, aku langsung mengetahui bahwa Ayah, Ibu dan Kakak tengah sibuk meniup balon. Aku langsung tersenyum. Tapi, mana kakek? Setelah 15 menit berlalu, ayah sepertinya memutuskan untuk memanggil beliau ke kamarnya. Tiba-tiba Ayah berteriak memanggil Ibu. Sontak aku langsung bergegas keluar dari kamar. Napasnya sudah berhenti. Wajah tua itu tersenyum tenang dan damai di ujung waktunya. Benar saja apa yang dikatakannya waktu itu. Beliau pergi sebelum bisa menghirup  aroma pagi itu...

Perjalanan 24 Jam

Ini kisah tentang perjalanan seorang manusia. Perjalanan panjang yang melibatkan banyak peristiwa, banyak rasa dan banyak orang yang terlibat di dalamnya. Dan semua yang terjadi juga atas campur tangan Yang Maha Kuasa. Tujuannya cuma satu, untuk kembali ke pangkuan-Nya. Sebagai seorang jompo berkepala enam , kakek ini orangnya optimis sekali. Walaupun giginya sudah banyak yang tanggal , tapi senyumnya tidak pernah memudar. Dua puluh empat jam- nya dibuka dengan secangkir teh hangat tanpa gula, tentunya. Pagi pagi buta, beliau sudah siap dengan sepatu olahraga pemberian cucunya dipadukan dengan kaus baseball kesukaannya. Waktunya menyehatkan badan dan pikiran. "Udara pagi adalah gerbang pembuka hariku. Jika aku masih bisa menghirup aromanya , berarti satu hari itu masih menjadi milikku ." , begitu katanya. Jam berikutnya, beliau sudah duduk di atas motor. Udara dingin masih menyelimuti bumi, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket-kali ini pemberian anak semata wayang...