Selamat Jalan, Kakek

Masih tentang beliau kali ini.

24 jamnya selalu begitu. Rutin.

24 Maret 1997, beliau tidur lebih cepat. Setelah seharian membuat kue ulang tahun untuk cucu kesayangannya. Besok adalah hari yang sangat dinanti-nanti olehnya.

TENG! Jam besar di ruang tamu menunjukkan waktu pukul 04.00 Waktu Indonesia bagian Barat. Beliau menolak permintaan anaknya untuk membuat kejutan tengah malam, takut cucunya mengantuk dan terlambat masuk sekolah.

Aku terbangun tiba-tiba saat itu. Dengan mengintip di celah pintu kamar, aku langsung mengetahui bahwa Ayah, Ibu dan Kakak tengah sibuk meniup balon. Aku langsung tersenyum.

Tapi, mana kakek?

Setelah 15 menit berlalu, ayah sepertinya memutuskan untuk memanggil beliau ke kamarnya.

Tiba-tiba Ayah berteriak memanggil Ibu. Sontak aku langsung bergegas keluar dari kamar.

Napasnya sudah berhenti. Wajah tua itu tersenyum tenang dan damai di ujung waktunya.

Benar saja apa yang dikatakannya waktu itu. Beliau pergi sebelum bisa menghirup  aroma pagi itu.

"Udara pagi adalah gerbang pembuka hariku. Jika aku masih bisa menghirup aromanya, berarti satu hari itu masih menjadi milikku."

Gerbangnya telah ditutup. Hari itu sudah bukan lagi miliknya, juga hari hari berikutnya. Selamat jalan kakek, semoga Tuhan dan para malaikatnya menjagamu di sana.

-sepengggal cerita tentang kakek, ku ceritakan di sini dengan memori penuh kenangan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu

HOW TO FINANCIAL CHECK UP